Renungan buat para Profesor riset kita

Kita baru baru saja mendengar dan membaca sendiri bagaimana nasib dan keluh kesah kawan-kawan kita penyuluh yang ada di BPTP. Walaupun secara organisasi mereka berada dalam naungan rumah kita yang besar ini (Badanlitbang Pertanian) tetapi nasib mereka ternyata tidak semujur dengan kita yang peneliti. Ini menjadi pembelajaran besar bagi kita betapa hal-hal yang mestinya tidak perlu terjadi tetapi harus terjadi dan terasa sangat pahit bukan saja itu penyuluhnya itu sendiri tetapi juga keluarga mereka. Secara sepihak pasti perasaan teman-teman penyuluh mereka merasa telah didiskriminasi.

Apa subtansi yang ingin saya sampaikan kepada senior-senior kita yang sudah mencapai jenjang tertinggi adalah bahwa sebagai SDM peneliti yang paling senior di Badanlitbang ini mestinya kalian memikirkan nasib juniornya. Bagainmana caranya, ya dihimpunlah para junior-junior itu dalam suatu wadah entah apa namanya, Perhimpunan Peneliti Pertanian Indonesia, atau apalah, tidak penting nama itu, yang penting tujuannya adalah agar apabila nanti para peneliti mendapat hambatan atau masalah dalam karir penelitinya, maka perhimpunan bisa menjadi media perjuangan kita. Pembinaan peneliti yang selama ini dilakukan melalui pembinaan struktural yang dilakukan melalui jalur kedinasan bisa saja mengalami hambatan dan rintangan yang tidak terduga oleh akibat adanya perubahan kebijakan departemen yang mungkin saja suatu hari akan merugikan peneliti, contoh besar kita adalah kasus yang telah dialami oleh penyuluh kita di BPTP.

Tetapi kita ini kecewa sekali, mengapa kalian sebagai abang kita koq malah eksklusif sekali membentuk himpunan khusus untuk yang sudah profesor riset saja(Perhimpunan Profesor Riset Indonesia). Itu lebih terkesan sebagai suatu ” komplotan orang-orang elite ” dari pada sebuah ” perhimpuan profesi “. Bukannya kalian itu terpanggil untuk membimbing dan mengkordinasikan adek-adeknya yang masih junior supaya tidak terkotak-kotak seperti itu. Bagaimana repotnya nanti kalo ada junior yang mau berhimpun juga seperti kakak-kakanya, maka organisasinya bernama apa?. Yang paling pas ya : Perhimpunan Peneliti Yang Belum Profesor Riset. Apakah ini etis untuk kita lakukan?.

Kalo saya pribadi sebenarnya lebih baik kita buat saja satu wadah yang menghimpun semua bidang profesi dilingkup Kementrian Pertanian. Ya penelitilah disitu, ya penyuluh juga, ya perekayasa juga, ya praktisi juga, dan semua peminat dan bahkan pemerhati masalah pertanian kita. Sebut saja kira-kita wadah itu sebagai : Forum Rembuk Peneliti, Penyuluh, Perekayasa dan Pemerhati Pertanian Indonesia (FRP5I).

Mengapa ini penting?.
Karna selama ini konsep dan pemikiran yang lahir dari peneliti kita tentang pembangunan pertanian ini masih terpengaruh oleh apa yang kita kerjakan. Kita masih bahas konsep itu dalam perspektif peneliti. Apalagi kalo sudah berbicara teknologi, kita selalu mengacu pada nilai empiris dari data kita dilapangan, signifikan atau tidak signifikan, nyata atau tidak nyata, berpengaruh atau tidak berpengaruh. Padahal dilapangan, masalah petani tidak selalu selesai dengan hasil teknologi yang dikerjakan peneliti.

Kenapa ini terjadi?
Karna dunia pertanian itu melibatkan aspek kultur yang selama ini justru dikesampingkan atau justru bahkan tidak dipahami oleh peneliti. Itu makanya teknologi bertani itu lebih dikenal sebagai ” Teknologi Budidaya Pertanian “, karna disitu ada aspek budaya dan kebudayaan yang harus dicermati dan dijadikan ajuan utama dalam rangka mendesain kebutuhan teknologi yang diperlukan petani yang cocok dengan kultur mereka.

Apa harapan kita dengan menyatu dalam wadah FRP5I?
Kita telah diberi contoh oleh kasus keluhan Dr Pius Kataren, dihadapan kepala negara yang berujung pada keluarnya Kepress no,100/2012 tetang jenjang fungsional peneliti. Padahal Badanlitbang Pertanian melalui jalur normatif kedinasan kan sudah cukup lama?, tetapi mengapa pimpinan negara lebih mendengar pak Pius?. Begitulah biasanya saran dan usul dari individu atau organisasi profesi atau institusi non pemerintah justru akan cepat mendapat respon.

Kita lihat buktinya lagi pada departemen pendidikan misalnya,sertifikasi guru dan dosen itu yang memperjuangkan dan yang menggolkan bukan dari kerja departemen pendidikan, tetapi melalui hasil munas PGRI (saya lupa tahunnya) yang mana salah satu keputusan penting yang dihasilkan adalah :
1. Perbaikan nasib guru dan dosen dengan memberikan tunjangan sertifikasi dan tunjangan profesi
2. Dan Keputusan politik penting yang dihasilkan bagi dunia pendidikan adalah disetujuinya : 20% dari APBN nasional kita harus diberikan pada departemen pendidikan.

Nah ini hebatnya karna guru dan dosen punya wadah dan organisasi yang disebut PGRI, yang berjuang secara sepihak bila perjuangan melalui jalur normatif departemen terhadap kepentingan guru dan dosen dan kepentingan nasional yang menyangkut pendidikan mengalami hambatan.

Seperti itu lah yang saya impikan, mudah-mudahan FRP5I nanti akan bisa membuktikan keberadaannya dan menjadi basis perjuangan semua komponen yang terlibat dan menjadi mitra utama yang mendampingi kementerian pertanian dalam pembangunan pertanian indonesia dan pembangunan petani seutuhnya.

Sekian dan terima kasih